ANALISIS KUALITATIF HCN
Hari,
tanggal praktikum : Senin, 21 Mei 2012
I.
TUJUAN
³ Tujuan
Instruksional Umum
Mahasiswa dapat melakukan analisis HCN pada sampel makanan secara
kualitatif
³ Tujuan
Instruksional Khusus
Untuk
mengetahui adanya kandungan HCN pada sampel makanan (ubi) yang diuji.
II.
METODE
Metode yang digunakan adalah metode kromatografi kertas.
III.
PRINSIP
HCN akan bereaksi dengan pikrat akan menghasilkan perubahan warna menjadi
merah dalam suasana asam.
IV.
DASAR TEORI
Asam sianida seperti halida hidrogen, adalah zat molekular yang kovalen,
namun mampu terdisosiasi dalam larutan air, merupakan gas yang sangat beracun
(meskipun kurang beracun dari H2S), tidak bewarna dan terbentuk bila
sianida direaksikan dengan sianida. Dalam larutan air, HCN adalah asam yang
sangat lemah, pK25°= 9,21 dan larutan sianida yang larut
terhidrolisis tidak terbatas namun cairan murninya adalah asam yang kuat.
Asam bebas HCN mudah menguap dan
sangat berbahaya, sehingga semua eksperimen, dimana kemungkinan asam sianida
akan dilepas atau dipanaskan, harus dilakukan didalam lemari asam (Vogel, 1990).
Asam sianida cepat terserap oleh
alat pencernaan dan masuk kedalam aliran darah lalu bergabung dengan hemoglobin
di dalam sel darah merah. Keadaan ini menyebabkan oksigen tidak dapat diedarkan
dalam sistem badan. Sehingga dapat menyebabkan sakit atau kematian dengan dosis
mematikan 0,5-3,5 mg HCN/kg berat badan.
Glikosida sianogenetik merupakan
senyawa yang terdapat dalam bahan makanan nabati dan secara potensial sangat
beracun karena dapat terurai dan mengeluarkan hidrogen sianida. Asam sianida
dikeluarkan dari glikosida sianogenetik pada saat komoditi dihaluskan,
mengalami pengirisan atau mengalami kerusakan.
Senyawa glikosida sianogenetik
terdapat pada berbagai jenis tanaman dengan nama senyawa berbeda-beda, seperti
amigladin pada biji almond, apricot, dan apel, dhurin pada biji shorgun dan
linimarin pada kara dan singkong. Nama kimia amigladin adalah glukosida
benzaldehida sianohidrin, dhurin adalah glukosida p-hidroksi-benzaldehida sianohidrin dan linamarin glikosida aseton
sianohidrin (Winarno, 2002).
HCN PADA UMBI-UMBIAN (SINGKONG)
Bagian yang dimakan dari tumbuhan singkong atau cassava
ialah umbi akarnya dan daunnya. Baik daun maupun umbinya, mengandung suatu
glikosida cyanogenik, artinya suatu ikatan organik yang dapat menghasilkan
racun biru atau HCN (cyanida) yang bersifat sangat toksik. Zat glikosida ini
diberi nama Linamarin.
Penyebab keracunan singkong adalah asam cyanida yang
terkandung didalamnya. Bergantung pada jenis singkong kadar asam cyanida
berbeda-beda. Namun tidak semua orang yang makan singkong menderita keracunan.
Hal ini disebabkan selain kadar asam cyanida yang terdapat dalam singkong itu
sendiri, juga dipengaruhi oleh cara pengoahannya sampai di makan. Diketahui
bahwa dengan merendam singkong terlebih dahulu di dalam air dalam jangka waktu
tertentu, kadar asam cyanida (HCN) dalam singkong akan berkurang oleh karena
HCN akan larut dalam air.
HCN adalah suatu racun kuat yang menyebabkan asfiksia.
Asam ini akan mengganggu oksidasi (pengakutan O2) ke jaringan dengan jalan
mengikat enzym sitokrom oksidasi. Oleh karena adanya ikatan ini, 02 tidak dapat
digunakan oleh jaringan sehingga organ yang sensitif terhadap kekurangan 02
akan sangat menderita terutama jaringan otak. Akibatnya akan terlihat pada
permukaan suatu tingkat stimulasi daripada susunan saraf pusat yang disusul
oleh tingkat depresi dan akhirnya timbul kejang oleh hypoxia dan kematian oleh
kegagalan pernafasan. Kadang-kadang dapat timbul detak jantung yang ireguler.
GEJALA
Biasanya
gejala akan timbul beberapa jam setelah makan singkong.
1.
Gangguan saluran
pencernaan seperti mual, muntah dan diare.
2.
Sesak nafas dan
cyanosis.
3.
Perasaan pusing,
lemah, kesadaran menurun dari apatis sampai koma.
4.
Renjatan.
DIAGNOSA
Diagnosa keracunan singkong ditegakkan berdasarkan
gejala-gejala klinik dan anamnese makanan, ditopang oleh data laboratorik hasil
pemeriksaan contoh muntahan dan bahan makanan yang tersisa.
PENGOBATAN
Pengobatan harus dilakukan secepatnya. Bila makanan diperkirakan masih ada
di dalam lambung (kurang dari 4 jam setelah makan singkong), dilakukan pencucian
lambung atau membuat penderita muntah. Diberikan Natrium thiosulfat 30%
(antidotum) sebanyak 10-30 ml secara intravena perlahan. Bila timbul cyanosis dapat
diberikan 02.
V.
ALAT DAN BAHAN
á Alat :
ì Beaker gelas
ì Gelas ukur 10 ml
ì Pipet tetes
ì Neraca
ì Batang pengaduk
ì Mortir dan stamper
ì Sendok pendok
ì Erlenmeyer tertutup
ì Kompor
ì Penanggas air
á Bahan :
~ Aquades
~ Sampel (ketela rambat)
~
Larutan asam tartrat
~
Larutan Natrium Karbonat 10%
VI.
CARA KERJA
1.
Disiapkan alat dan
bahan yang akan digunakan
2.
Ditimbang 15-25
gram sampel lalu hancurkan dengan menggunakan mortar dan stampler
3.
Dimasukkan dalam
erlenmeyer tertutup lalu ditambahkan aquades 50 ml
4.
Ditambahkan 10 ml
asam tartrat
5.
Pada mulut
erlenmeyer gantung kertas pikrat yang sudah dicelupkan ke dalam larutan Natrium
Karbonat 10%
6.
Ditutup erlenmeyer
lalu dipanaskan pada suhu 50oC selama 15 menit
VII.
HASIL PENGAMATAN
v Sampel :
Ketela Rambat
v Data Hasil Pengamatan
Berat
yang ditimbang : 20 gram
Hasil Percobaan : negatif ( kertas pikrat tidak berubah warna
menjadi merah )
v Gambar :
Ø Jadi pada sampel ketela rambat yang diperiksa, didapatkan
hasil negatif (-) pada pemeriksaan HCN secara kualitatif, maka dapat diketahui
sampel ketela rambat tidak mengandung HCN.
Ø Jadi pada sampel ketela rambat yang diperiksa, didapatkan
hasil negatif (-) pada pemeriksaan HCN secara kualitatif, maka dapat diketahui
sampel ketela rambat tidak mengandung HCN.
VIII.
PEMBAHASAN
Pada
praktikum ini dilakukan pemeriksaan kadar HCN secara kualitatif pada sampel
makanan. Karena HCN
sangat berbahaya dan
beracun, perlu diketahui kandungan HCN dalam suatu makanan supaya dapat mengetahui kelayakan makanan
tersebut untuk dikonsumsi. Praktikum pemeriksaan ini dilakukan dengan
penambahan asam tartarat pada sampel yang telah
diencerkan dengan aquades yang kemudian diuji menggunakan kertas pikrat yang
telah dicelupkan kedalam natrium karbonat 10% yang dilakukan dengan pemanasan. Jika dalam sampel makanan tersebut mengandung HCN, maka kertas pikrat akan
mengalami perubahan warna menjadi merah,
sehingga dapat diketahui sampel tersebut positif mengandung HCN.
Praktikum pemeriksaan HCN secara kualitatif ini menggunakan
sampel ketela rambat. Sampel terlebih
dahulu dihancurkan supaya dapat tercampur dengan baik dalam pelarut
aquades, setelah itu sampel ditimbang sebanyak 15-25 gram lalu dicampurkan ke dalam aquades
sebanyak 50 ml. Setelah itu dilakukan
penambahan 10 ml asam tartarat ke dalam larutan sampel. Kemudian
larutan diaduk agar tercapur atau homogen.
Kertas pikrat pada praktikum ini digunakan sebagai indicator
untuk menentukan apakah sampel mengandung HCN atau tidak yang ditentukan dengan
perubahan warna yang terjadi. Kertas pikrat terlebih dahulu dicelupkan kedalam
natrium karbonat 10% kemudian di gantung pada mulut Erlenmeyer. Erlenmeyer yang
digunakan adalah Erlenmeyer yang tertutup agar gas HCN yang dikeluarkan sampel
pada saat pemanasan tidak keluar dari Erlenmeyer. Pemanasan dilakukan pada suhu
50oC selama 15
menit. Kemudian diamati jika terjadi perubahan warna pada kertas pikrat. Jika
kertas pikrat berubah warna menjadi merah maka dapat disimpulkan sampel
tersebut mengandung HCN.
Dalam praktikum yang dilakukan didapatkan hasil negatif pada pemeriksaan HCN secara kualitatif yang dilakukan pada sampel ketela
rambat. Hal itu dikarenakan tidak
terjadi perubahan warna mejadi merah pada kertas pikrat.
Karena praktikum yang dilakukan hanya secara kualitatif saja maka sampel
yang diperiksa tidak dapat dipastikan dengan benar tidak mengandung HCN, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan secara kuantitatif
untuk mengetahui dengan benar kadar HCN dalam sampel makanan. Jika dalam pemeriksaan HCN secara kuantitatif juga didapatkan hasil negatif dan
atau kadar rendah (memenuhi syarat yang diperbolehkan dalam makanan) maka
makanan tersebut layak untuk dikonsumsi. Dan jika didapatkan hasil yang tidak
memenuhi syarat kadar maksimum HCN yang diperbolehkan dalam makanan, maka makanan tersebut
tidak layak untuk dikonsumsi karena bersifat toksik yang berbahaya bagi
kesehatan.
IX.
KESIMPULAN
Dari praktikum
yang dilakukan dan pembahasan maka didapat simpulan sebagai berikut :
1. HCN dalam makanan sangat berbahaya
bagi kesehatan karena HCN bersifat racun sehingga HCN yang berlebih tidak boleh
terkandung dalam makanan.
2. Dalam praktikum pemeriksaan HCN secara kualitatif yang dilakukan pada sampel ketela
rambat, didapatkan hasil negatif sehingga dapat dikatakan
sampel ketela rambat tidak mengandung HCN.
DAFTAR PUSTAKA
Sediaoetama
Achrnad Djaeni Prof.Dr, 1989. Ilmu gizi, Jilid II. Dian Rakyat : Jakarta.
Cooper Lenna F,B.S.,M.A,M.H.E,Sc.D, dkk. Nutrition in
Health and Disease. Thirteenth Edition.
Anonim. 2010.
http://rapeacemaker.blogspot.com/2010/05/asam-sianida-hcn.html
Anonim. 2010. http://www.scribd.com/doc/49759945/ANALISIS-HCN-DAN-FORMALIN-PADA-MAKANAN
1 komentar:
terima kasih, sangat membantu :)
Posting Komentar