6.01.2012

ANALISIS KUALITATIF HCN


ANALISIS KUALITATIF HCN

Hari, tanggal praktikum     :  Senin, 21 Mei 2012

     I.      TUJUAN
³  Tujuan Instruksional Umum
Mahasiswa dapat melakukan analisis HCN pada sampel makanan secara kualitatif
³  Tujuan Instruksional Khusus
Untuk mengetahui adanya kandungan HCN pada sampel makanan (ubi) yang diuji.

  II.         METODE
Metode yang digunakan adalah metode kromatografi kertas.

III.         PRINSIP
HCN akan bereaksi dengan pikrat akan menghasilkan perubahan warna menjadi merah dalam suasana asam.

IV.         DASAR TEORI
Asam sianida seperti halida hidrogen, adalah zat molekular yang kovalen, namun mampu terdisosiasi dalam larutan air, merupakan gas yang sangat beracun (meskipun kurang beracun dari H2S), tidak bewarna dan terbentuk bila sianida direaksikan dengan sianida. Dalam larutan air, HCN adalah asam yang sangat lemah, pK25°= 9,21 dan larutan sianida yang larut terhidrolisis tidak terbatas namun cairan murninya adalah asam yang kuat.
Asam bebas HCN mudah menguap dan sangat berbahaya, sehingga semua eksperimen, dimana kemungkinan asam sianida akan dilepas atau dipanaskan, harus dilakukan didalam lemari asam (Vogel, 1990).
Asam sianida cepat terserap oleh alat pencernaan dan masuk kedalam aliran darah lalu bergabung dengan hemoglobin di dalam sel darah merah. Keadaan ini menyebabkan oksigen tidak dapat diedarkan dalam sistem badan. Sehingga dapat menyebabkan sakit atau kematian dengan dosis mematikan 0,5-3,5 mg HCN/kg berat badan.
Glikosida sianogenetik merupakan senyawa yang terdapat dalam bahan makanan nabati dan secara potensial sangat beracun karena dapat terurai dan mengeluarkan hidrogen sianida. Asam sianida dikeluarkan dari glikosida sianogenetik pada saat komoditi dihaluskan, mengalami pengirisan atau mengalami kerusakan.
Senyawa glikosida sianogenetik terdapat pada berbagai jenis tanaman dengan nama senyawa berbeda-beda, seperti amigladin pada biji almond, apricot, dan apel, dhurin pada biji shorgun dan linimarin pada kara dan singkong. Nama kimia amigladin adalah glukosida benzaldehida sianohidrin, dhurin adalah glukosida p-hidroksi-benzaldehida sianohidrin dan linamarin glikosida aseton sianohidrin (Winarno, 2002).

HCN PADA UMBI-UMBIAN (SINGKONG)
Bagian yang dimakan dari tumbuhan singkong atau cassava ialah umbi akarnya dan daunnya. Baik daun maupun umbinya, mengandung suatu glikosida cyanogenik, artinya suatu ikatan organik yang dapat menghasilkan racun biru atau HCN (cyanida) yang bersifat sangat toksik. Zat glikosida ini diberi nama Linamarin.
Penyebab keracunan singkong adalah asam cyanida yang terkandung didalamnya. Bergantung pada jenis singkong kadar asam cyanida berbeda-beda. Namun tidak semua orang yang makan singkong menderita keracunan. Hal ini disebabkan selain kadar asam cyanida yang terdapat dalam singkong itu sendiri, juga dipengaruhi oleh cara pengoahannya sampai di makan. Diketahui bahwa dengan merendam singkong terlebih dahulu di dalam air dalam jangka waktu tertentu, kadar asam cyanida (HCN) dalam singkong akan berkurang oleh karena HCN akan larut dalam air.
HCN adalah suatu racun kuat yang menyebabkan asfiksia. Asam ini akan mengganggu oksidasi (pengakutan O2) ke jaringan dengan jalan mengikat enzym sitokrom oksidasi. Oleh karena adanya ikatan ini, 02 tidak dapat digunakan oleh jaringan sehingga organ yang sensitif terhadap kekurangan 02 akan sangat menderita terutama jaringan otak. Akibatnya akan terlihat pada permukaan suatu tingkat stimulasi daripada susunan saraf pusat yang disusul oleh tingkat depresi dan akhirnya timbul kejang oleh hypoxia dan kematian oleh kegagalan pernafasan. Kadang-kadang dapat timbul detak jantung yang ireguler.
GEJALA
Biasanya gejala akan timbul beberapa jam setelah makan singkong.  
1.      Gangguan saluran pencernaan seperti mual, muntah dan diare.
2.      Sesak nafas dan cyanosis.
3.      Perasaan pusing, lemah, kesadaran menurun dari apatis sampai koma.
4.      Renjatan.
DIAGNOSA
Diagnosa keracunan singkong ditegakkan berdasarkan gejala-gejala klinik dan anamnese makanan, ditopang oleh data laboratorik hasil pemeriksaan contoh muntahan dan bahan makanan yang tersisa.
PENGOBATAN
Pengobatan harus dilakukan secepatnya. Bila makanan diperkirakan masih ada di dalam lambung (kurang dari 4 jam setelah makan singkong), dilakukan pencucian lambung atau membuat penderita muntah. Diberikan Natrium thiosulfat 30% (antidotum) sebanyak 10-30 ml secara intravena perlahan. Bila timbul cyanosis dapat diberikan 02.



  V.          ALAT DAN BAHAN
á  Alat :


ì  Beaker gelas
ì  Gelas ukur 10 ml
ì  Pipet tetes
ì  Neraca
ì  Batang pengaduk
ì  Mortir dan stamper
ì  Sendok pendok
ì  Erlenmeyer tertutup
ì  Kompor
ì  Penanggas air



á  Bahan :
~ Aquades
~ Sampel (ketela rambat)
~ Larutan asam tartrat
~ Larutan Natrium Karbonat 10%


VI.          CARA KERJA
1.    Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2.    Ditimbang 15-25 gram sampel lalu hancurkan dengan menggunakan mortar dan stampler
3.    Dimasukkan dalam erlenmeyer tertutup lalu ditambahkan aquades 50 ml
4.    Ditambahkan 10 ml asam tartrat
5.    Pada mulut erlenmeyer gantung kertas pikrat yang sudah dicelupkan ke dalam larutan Natrium Karbonat 10%
6.    Ditutup erlenmeyer lalu dipanaskan pada suhu 50oC selama 15 menit

VII.          HASIL PENGAMATAN
v  Sampel                             : Ketela Rambat
v  Data Hasil Pengamatan  
Berat yang ditimbang    : 20 gram
Hasil Percobaan             : negatif ( kertas pikrat tidak berubah warna menjadi merah )
v  Gambar :

Ø  Jadi pada sampel ketela rambat yang diperiksa, didapatkan hasil negatif (-) pada pemeriksaan HCN secara kualitatif, maka dapat diketahui sampel ketela rambat tidak mengandung HCN.





VIII.          PEMBAHASAN
Pada praktikum ini dilakukan pemeriksaan kadar HCN secara kualitatif pada sampel makanan. Karena HCN sangat berbahaya dan beracun, perlu diketahui kandungan HCN dalam suatu makanan supaya dapat mengetahui kelayakan makanan tersebut untuk dikonsumsi. Praktikum pemeriksaan ini dilakukan dengan penambahan asam tartarat pada sampel yang telah diencerkan dengan aquades yang kemudian diuji menggunakan kertas pikrat yang telah dicelupkan kedalam natrium karbonat 10% yang dilakukan dengan pemanasan. Jika dalam sampel makanan tersebut mengandung HCN, maka kertas pikrat akan mengalami perubahan warna menjadi merah, sehingga dapat diketahui sampel tersebut positif mengandung HCN.
Praktikum pemeriksaan HCN secara kualitatif ini menggunakan sampel ketela rambat. Sampel terlebih dahulu dihancurkan supaya dapat tercampur dengan baik dalam pelarut aquades, setelah itu sampel ditimbang sebanyak 15-25 gram lalu dicampurkan ke dalam aquades sebanyak 50 ml. Setelah itu dilakukan penambahan 10 ml asam tartarat ke dalam larutan sampel. Kemudian larutan diaduk agar tercapur atau homogen. Kertas pikrat pada praktikum ini digunakan sebagai indicator untuk menentukan apakah sampel mengandung HCN atau tidak yang ditentukan dengan perubahan warna yang terjadi. Kertas pikrat terlebih dahulu dicelupkan kedalam natrium karbonat 10% kemudian di gantung pada mulut Erlenmeyer. Erlenmeyer yang digunakan adalah Erlenmeyer yang tertutup agar gas HCN yang dikeluarkan sampel pada saat pemanasan tidak keluar dari Erlenmeyer. Pemanasan dilakukan pada suhu 50oC selama 15 menit. Kemudian diamati jika terjadi perubahan warna pada kertas pikrat. Jika kertas pikrat berubah warna menjadi merah maka dapat disimpulkan sampel tersebut mengandung HCN.
Dalam praktikum yang dilakukan didapatkan hasil negatif pada pemeriksaan HCN secara kualitatif yang dilakukan pada sampel ketela rambat. Hal itu dikarenakan tidak terjadi perubahan warna mejadi merah pada kertas pikrat.
Karena praktikum yang dilakukan hanya secara kualitatif saja maka sampel yang diperiksa tidak dapat dipastikan dengan benar tidak mengandung HCN, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan secara kuantitatif untuk mengetahui dengan benar kadar HCN dalam sampel makanan. Jika dalam pemeriksaan HCN secara kuantitatif juga didapatkan hasil negatif dan atau kadar rendah (memenuhi syarat yang diperbolehkan dalam makanan) maka makanan tersebut layak untuk dikonsumsi. Dan jika didapatkan hasil yang tidak memenuhi syarat kadar maksimum HCN yang diperbolehkan dalam makanan, maka makanan tersebut tidak layak untuk dikonsumsi karena bersifat toksik yang berbahaya bagi kesehatan.







IX.          KESIMPULAN
Dari praktikum yang dilakukan dan pembahasan maka didapat simpulan sebagai berikut :
1.    HCN dalam makanan sangat berbahaya bagi kesehatan karena HCN bersifat racun sehingga HCN yang berlebih tidak boleh terkandung dalam makanan.
2.    Dalam praktikum pemeriksaan HCN secara kualitatif yang dilakukan pada sampel ketela rambat, didapatkan hasil negatif sehingga dapat dikatakan sampel ketela rambat tidak mengandung HCN.




DAFTAR PUSTAKA



Sediaoetama Achrnad Djaeni Prof.Dr, 1989. Ilmu gizi, Jilid II. Dian Rakyat : Jakarta.
Cooper Lenna F,B.S.,M.A,M.H.E,Sc.D, dkk. Nutrition in Health and Disease. Thirteenth Edition.
Anonim. 2010. http://rapeacemaker.blogspot.com/2010/05/asam-sianida-hcn.html
Anonim. 2010. http://www.scribd.com/doc/49759945/ANALISIS-HCN-DAN-FORMALIN-PADA-MAKANAN

1 komentar:

Unknown mengatakan...

terima kasih, sangat membantu :)